Selasa, 06 Maret 2012

penelitian kodok

Adaptasi Kodok Pada Relung Habitatnya

 
No Image
Rana erythraea
Setiap jenis kodok mempunyai relung spesifik pada habitat yang menjadi tempat hidupnya.  Umumnya jenis-jenis kodok yang hidup pada habitat perairan berarus deras mempunyai loncatan cukup yang jauh, karena mereka harus melompat dari batu ke batu yang jaraknya relatif jauh untuk ukuran tubuh mereka; sedangkan jenis-jenis kodok yang hidupnya terestrial umumnya mempunyai loncatan yang relatif pendek.  Untuk melihat bagaimana mekanika tipe
loncatan yang dipunyai oleh masing-masing jenis kodok, perangkat lunak Tracker-4.05 dapat dipakai sebagai media untuk menganalisis fisika mekanika dari loncatan kodok.

Eksperimen ini dilakukan bersama Dr. Arjan Boonman dengan mencoba pada jenis-jenis kodok yang hidup di lahan basah Ecology Park, Kampus LIPI Cibinong.  Jenis-jenis kodok yang didapat adalah Bufo melanostictus, Occidozyga lima, Rana erythraea dan R. nicobariensis.  Kamera yang digunakan untuk membuat video dari loncatan kodok adalah kamera poket Canon A490.  Hasil analisis dari video loncatan kodok
dengan menggunakan perangkat lunak Tracker-4.05 dapat dilihat pada Gambar 1 dan 2.  Data yang penting dalam eksperimen ini adalah tinggi (Gambar 1) dan jarak (Gambar 2) maksimum yang dihasilkan individu kodok dalam satu kali loncatan.  Kurva loncatan kodok akan terlihat pada grafik tracker, yang mana dari grafik ini dapat diketahui waktu (t) yang digunakan kodok dalam satu kali loncatan, kecepatan, percepatan, momentum dan sudut percepatan kurva loncatan kodok.  Bagian tubuh kodok yang mempengaruhi kurva loncatan adalah panjang kaki, panjang badan dan berat
badan kodok.  Hasil eksperimen ini pada empat jenis kodok yang didapatkan dari lahan basah Ecology Park memperlihatkan keempat jenis tersebut mempunyai kurva loncatan yang berbeda.  Eksperimen ini akan sangat menarik bila dapat mengungkapkan pada jenis-jenis kodok yang lebih banyak lagi yang hidup pada habitat yang beragam di Indonesia.













Gambar 1. Titik tertinggi dari kurva loncatan kodok betina Rana erythraea. Garis biru adalah jarak yang telah diketahui panjangnya; garis merah adalah koordinat dua dimensi (x,y). t=waktu; y=tinggi loncatan.















Gambar 2. Kurva penuh dari loncatan kodok betina R. erythraea, kodok mendarat di lantai.












Artikel ini ditulis oleh Hellen Kurniati : Warta Kita, November 2011
Artikel ini diunggah oleh Pramono pada tanggal 12 Januari 2012
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar